Gelombang panas ekstrem yang tengah melanda Perancis tidak hanya membawa lonjakan suhu udara, tetapi juga menyingkap tabir ketimpangan sosial yang mendalam di negara tersebut. Di saat warga kelas atas mampu mengakses fasilitas pendingin ruangan atau berlibur ke luar kota, warga di kawasan pinggiran yang miskin harus memutar otak demi bisa bertahan hidup di tengah suhu yang menyengat. Di kawasan La Plaine, Saint-Denis, salah satu komune termiskin di utara Paris yang terletak hanya beberapa ratus meter dari stadion nasional Stade de France, seorang warga bernama Ibrahim Doukanthi bersiap melompat ke Kanal Saint-Denis. Saat itu, waktu menunjukkan hampir tengah hari, dan temperatur di wilayah Paris sudah mendekati angka 30 derajat Celsius.
Meskipun kanal tersebut secara teknis tertutup bagi perenang, Doukanthi tidak punya banyak pilihan karena apartemen tempat tinggalnya tidak dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan atau AC. “Air di sini sebenarnya sangat normal,” kata Doukanthi. “Hanya saja warnanya hijau, jadi Anda tidak tahu apa yang ada di dalamnya, itu yang membuatnya sedikit menakutkan,” paparnya, dikutip dari Al Jazeera, Senin (7/7/2026).
Untuk menyiasati hawa panas di dalam ruangan, ia juga mengandalkan alat seadanya. “Apa yang saya lakukan adalah mengambil botol semprot. Saya menyebutnya ‘pshit-pshit’, mengisinya dengan air, menyemprot diri saya sendiri, lalu duduk di depan kipas angin. Itu mendinginkan Anda seperti orang gila,” lanjutnya. Kondisi ini memicu kritik tajam dari masyarakat setempat. Natifa Segli, seorang pegawai pemerintah daerah yang sedang berteduh di pasar loak Saint-Denis, menilai pemerintah Perancis gagal mengantisipasi bencana tahunan ini. “Saya merasa kita tidak memetik pelajaran dari gelombang panas tahun 2003. Di sinilah kita berada di tahun 2026, dan gelombang panas ini sangat mengerikan,” ujar Segli.
Ironi fasilitas publik dan lonjakan angka kematian Akses terhadap infrastruktur pendingin yang merata masih menjadi barang mewah bagi sebagian warga. Louiza Ammari, seorang pekerja penitipan anak yang tinggal di rumah susun sosial, menceritakan bahwa pihak kepolisian bahkan melarang warga di gedungnya untuk memasang kolam renang tiup untuk anak-anak. Sebagai penyewa, keluarganya juga dilarang memasang AC. Sementara itu, fasilitas kolam renang kota yang digratiskan selama jam-jam tertentu tidak bisa ia akses karena adanya larangan penggunaan pakaian renang muslimah (burkini). “Kami benar-benar tidak punya apa-apa untuk mendinginkan diri,” keluh Ammari.
Dampak dari keterbatasan ini terbukti fatal. Berdasarkan data dari badan kesehatan masyarakat nasional Perancis, terdapat 2.025 kematian tambahan yang tercatat selama pekan terjadinya gelombang panas pada 22 Juni. Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 30 persen secara nasional, dan meningkat drastis hingga 62 persen khusus di wilayah regional Paris. Profesor ilmu politik dari AgroParisTech Paris-Saclay yang berspesialisasi dalam kebijakan lingkungan, Bruno Villalba, menegaskan bahwa fenomena ini melampaui masalah cuaca biasa. “Gelombang panas hanyalah gejala dari kerentanan sosial, khususnya dalam hal perumahan,” jelas Villalba kepada Al Jazeera. Menurut Villalba, kelompok masyarakat kelas atas memiliki kemampuan finansial untuk melapisi dinding rumah mereka dengan isolasi termal, membeli AC portabel, mengonsumsi makanan segar, atau pergi meninggalkan kota saat suhu melonjak. Pilihan-pilihan tersebut mustahil dijangkau oleh warga miskin.
Dampak perubahan iklim tidak dirasakan setara Mael Ginsburger, seorang dosen di Université Paris Cité yang meneliti ketimpangan dalam transisi ekologi, mematahkan anggapan bahwa dampak perubahan iklim dirasakan secara adil oleh semua orang. “Kita semua tidak terekspos secara setara, sama seperti kita semua tidak bertanggung jawab secara setara. Ada ketimpangan yang signifikan dalam emisi karbon,” papar Ginsburger. “Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk beradaptasi, dan ada kelompok tertentu yang menghadapi kerentanan berlapis yang terkait dengan kesehatan yang buruk, misalnya,” imbuhnya. Penelitian Ginsburger menunjukkan perbedaan kontras: 70 persen rumah tangga kaya di Perancis menganggap rumah mereka telah terisolasi dengan baik untuk menghalau panas, dibandingkan dengan hanya 46 persen rumah tangga berpenghasilan rendah. Saat ini, sebanyak 66 persen masyarakat mengaku lebih menderita akibat hawa panas di musim panas, dibandingkan 46 persen yang mengeluhkan hawa dingin di musim musim dingin. “Hunian yang terlalu padat cenderung berada dalam kondisi buruk dan memiliki isolasi yang sangat buruk,” urai Ginsburger.
Ancaman nyata bagi tunawisma Bagi komunitas tunawisma, situasi ini jauh lebih mengancam nyawa. Paul Alauzy, perwakilan dari LSM Médecins du Monde (Dokter Lintas Batas) sekaligus anggota kelompok aktivis Le Revers, menjelaskan betapa mengerikannya kondisi di jalanan kota. “Orang yang berada di luar tidak memiliki waktu istirahat sesaat pun. Mereka tercekik di dalam hutan beton di mana tidak ada cara sederhana dan efektif untuk meloloskan diri dari panas yang menyengat. Di atas aspal, suhu yang dirasakan sering kali dapat meningkat hingga 45-50 derajat,” kata Alauzy. Kelompoknya mendesak otoritas terkait untuk segera merumuskan kebijakan jangka panjang demi menekan angka tunawisma sekaligus melindungi mereka dari cuaca ekstrem. “Sekali lagi, pihak berwenang dengan keras kepala menggunakan manajemen reaktif yang bergantung pada cuaca,” semprot Alauzy mengenai kebiasaan pemerintah yang hanya menyediakan tempat penampungan darurat dan keran air portabel saat krisis terjadi.
Kondisi yang sangat kontras terpantau di wilayah pegunungan Alpen, tepatnya di Chamonix. Meskipun suhu di sana sempat menembus angka di atas 30 derajat Celsius, sekitar 10 derajat Celsius lebih tinggi dari batas normal di akhir Juni, warga setempat masih bisa bernapas lega. Peningkatan suhu tersebut memang berdampak buruk bagi lingkungan, seperti menyusutnya Gletser Bossons secara drastis serta meningkatnya risiko batu runtuh di rute pendakian Gunung Mont Blanc. Namun, bagi penduduknya, faktor geografis memberikan keuntungan besar karena suhu malam hari tidak menyesakkan, ditambah akses gratis ke hutan dan sungai dari lelehan gletser. Jean-Michel Bouteille, mantan direktur layanan pemerintah daerah di Chamonix yang telah menetap di lembah tersebut selama 26 tahun, mengakui keuntungan ini. “Di Chamonix, seperti di banyak kota pegunungan, tentu menjadi keuntungan tersendiri berada di ketinggian 1.000 meter dan memiliki hutan yang berjarak hanya beberapa menit dari rumah,” ungkap Bouteille.
Meski begitu, Bouteille tidak menampik bahaya nyata dari perubahan iklim yang mulai menggerogoti wilayahnya. “Kami menghadapi suhu yang jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang menyebabkan konsekuensi signifikan. Gletser Bossons adalah sebuah bencana,” tutupnya.

